Mengikuti Naluri Bayi, Tak Gendong Kemana-mana

Digendong adalah kebutuhan alamiah seorang bayi. Sementara, belajar ilmu menggendong adalah tanggungjawab para orangtua.


Babywearing-33-1024x427

Sampai hari ini, saya menyesal tidak menggenapkan ilmu babywearing sebelum lahiran kemarin. Coba saja waktu itu saya ambil saja kelasnya di Harkel atau ikut event komunitasyang malahan saya lewati begitu saja.

“Ah gendong doang, wong insting, pasti nanti juga bisa sendiri. Lagian malu ah anaknya aja belom lahir.” begitu pikiran awam saya kali itu.

Alhasil, urusan gendong-menggendong Kakao sejak lahir sampai 3 bulan mesti saya alihkan kepada Enin, mama saya. Sebagai seorang mama, saya ingin sekali luwes dan cekatan menggendong Kakao. Sayang, rasa takut saya besar saat itu (padahal nyatanya bayi itu kuat. ciptaan Allah). Saya gak cukup percaya diri untuk menggendong Kakao dengan tangan saya sendiri, yap… karena saya memang belum mempelajari ilmunya.

Sampai tiba waktunya, saya menggendong Kakao yang sedang menangis untuk bangun dari bouncher. Saya gak tahu keberanian itu datang darimana. Saya merasa lega. Dan sejak saat itu, Kakao selalu saya gendong dan dekap. Everytime, everywhere.

Maaf ya nak, mama melewatkan banyak hari. Mulai saat ini dan seterusnya, mama mau gendong Kakao terus. Makasih sayang sudah sabar.

Begitu ucap saya sambil membelai kepalanya. Sejak saat itu juga, Kakao tumbuh lebih tenang dan jarang menangis. Dia juga lebih mudah tertidur kalau dipangkuan saya. Sejak itu juga, saya terbiasa setiap bangun tidur, saya langsung peluk Kakao.

Sebegitu ajaibnya memang perubahan sejak bisa menggendong. Saya merasa jauh jauh lebih bahagia.

Saya bersyukur sekali punya Mama yang selalu mau update ilmu. Mama adalah guru babywearing saya. Di saat mungkin Enin-enin yang lain, menolak gendongan gaya katak– dimana posisi kaki bayi berbentuk M shape. Mama saya malah menggendong Kakao begini bahkan hari-hari pertama Kakao. Beliau pula yang mengajarkan saya prinsip TICKS. Mama begitu lihai menggendong posisi Mshape dengan jarik. Sekalipun papa, tetangga, saudara semuanya protes; kok masih bayi sudah digendong ngangkang. Mama saya hanya tersenyum sambil menjawab, “Iya gapapa, dia enaknya gini kok. Sukanya nemplok.”

Memang perkara posisi katak, sudah semestinya tak perlu diperdebatkan lagi sih. Atau ibu-ibu udah gak perlu baper waktu dikomen ini itu.

Cukup senyumin atau singkat aja pembelaan, “disuruh dokternya nih.”

Aman kan dunia? 😄

Lalu,

Kenapa sih jaman sekarang, gendong aja kok ya kayanya ribet banget?

Gak kok. Gak sama sekali. 😅

Bagi saya justru, enaknya hidup di era masa kini tuh.. kita punya banyak referensi alternatif gaya babywearing. Kalau dulu tuh identik, gendong buat sakit pinggang, sakit punggung, nah sejak banyak praktisi gencar sosialiasai gendong yang bener, yaampun babay deh keluhan-keluhan tadi.

Saya bersyukur banget. Jadi bukan ribet ya, tapi sesuai. Percayalah, lama kelamaan-makin sering dipake tuh makin gampang ilmu gendong.

Apa menggendong harus TICKS dan Mshape?

Sebaiknya iya. Mshape sebetulnya bukan tren-tren semata, tapi memang atas penelitian panjang. Bahwa, posisi bentuk demikian sesuai anatomi tubuh bayi yang masih rawan cedera. Semakin lama, setahun keatas tulang bagian bokong makin kuat, Mshape tidak terlalu lagi prioritas. Oya intinya, kalau bahas Mshape berkaitan banget sama upaya menghindari hip dysplasia.

IMG_20181012_141528.jpg

Mshape juga bukan sekadar mengangkang ya. Tapi perlu diperhatikan kedua lutut bayi wajib terbalut kain gendong. Sehingga, posisinya lutut lebih tinggi dari bokongnya.

IMG_20181012_135217.jpg

Sementara, prinsip keamanan menggendong, yap haruslah TICKS.

Tight— ketat, saat digendong anak harus merasa seperti dipeluk ibu

In view at all time— saat menggendong kita mudah melihat anak, tidak mendelep

Close enough to kiss— saat menggendong kita mudah mencium anak

Keep chin off the nest— saat digendong dagu bayi tidak boleh menempel ke dadanya

Supported back— pastikan seluruh punggung bayi bisa tertopang penuh dengan gendongan

Seperti juga, menyusui. Menggendong artinya kita memberikan kenyamanan dan rasa aman kepada bayi, paling pentung kita mengajarkan bayi untuk percaya.

Ini dia kenapa kitanya dulu sebagai penggendong yang harus merasa nyaman, aman, percaya dan tentu bahagia saat menggendong.

Kebayang gak sih, kitanya aja gak nyaman gendong karena pegel ini itu, gimana bayi kan?

Kalau menerapkan prinsip-prinsip tadi, harus pakai gendongan modern ya?

Nope. pake kain jarik alias cukin, pun bisa sekali. hanya pakainya ini yang perlu diperhatikan, simpulnya bukan di bawah bahu. seperti cara yang terdahulu. tapi sebelum menggendong kita buat slipknot dulu, baru deh bocah diangkat dan taruh dalam gendongan. tutorial di yutub banyak banget kok!

9f78d3e5116451e1bf558754932d40a9

Jadi, kalau cari gendongan modern. mesti yang gimana enaknya ya?

Alhamdulillah, sekarang gendongan yang support prinsip TICKS dan Mshape ini bertebaran banget. Lokal maupun luar. Tinggal pinter milih sesuai kebutuhan dan kemampuan.

babywearing-gear-guide.jpg

Tapi kurang lebih begini, sedikit tips yang jadi pertimbangan saya.

1. Tentukan tujuan dari gendongan ini untuk dipakai saat moment apa? Khusus travelling kah? Atau hanya sekadar di rumah dan jalan ke mall? Atau butuh untuk menidurkan bayi? Atau ingin yang semua mencakupi?

Menurut saya, untuk travelling lebih rekomendasi memakai Soft Structured Carriers (SSC). Karena praktis gak perlu makan waktu untuk set ini itu. Tinggal cekrek, tarik-tarik, beres.

Nah kalau untuk di rumah dan jalan ke mall, saya sih rekomendasi Ring Sling. Karena motif dan warnaya lucu-lucu banget bisa match sama baju, haha! Ngga deng, ring sling bayinya bakal lebih nemplok. Dan misal sambil menyusui juga lebih mudah membuka aksesnya. Sementara kalau untuk nidurin bayi di bawah 6 bulan, bisa pakai wrap. Makenya ah susah banget, keburu anaknya tidur. Eits inget, practice makes perfect.

Kalau pilih salah satu aja bisa gak ya? Ya bisalah.

2. Siapa aja yang bakal pakai gendongan?

Suami kan tentunya? Nah, makanya bentuk carrier emang wajib punya karena alesan ini. Kecuali bapaknya, bapak gendong banget yak mau belajar pakai wrap atau simpul jarik atau mehdai. Tapi gak kalah penting, kita juga harus sesuaikan dengan lingkar pinggang, apakah masih masuk ketentuan atau tidak.

Suami saya misalnya ingin coba pakai ringsling, tapi apa daya badannya yang tinggi (180cm-an) gak mendukung untuk gendongan ini.

3. Kita butuh gendongan sampai berapa lama usia anak? Gapapa nih upgrade?

correct-positioning.jpg

Kalau ingin gak ribet, ada baiknya beli yang merek luar. Khususnya jenis SSC, karena rata2 gendongan bisa dipakai dari newborn sampai usia toddler. Misalnya boba 4G yang sudah termasuk insert. Merk lain juga nyedian insert tapi beli tambahan. Terus, kalau merek lokal, biasanya dibedakan ukuran standar dan toddler. Untuk wrap misalnya, hanya nyaman digunakan sampai 3-4 bulan waktu anak kita masih belum terlalu berat. Nah keuntungan ringsling, ini sampai toddler dia masih bisa.

4. Paling penting, on budget

Gak heran pasangan memasukan gendongan modern ke dalam daftar belanjaan. Karena harganya yang gak bisa dibilang murah. Kisaran merk lokal sendiri rata-rata 200-800 ribu. Kalau lokal jangan ditanya, paling murah ya sejuta. Di atas dua juta? Banyak.

Weeeeeh, worth it emang?

Kalau saya bilang sih, banget. Bayangin deh liburan bawa-bawa stroller. Mau yang seringan apapun tetep makan tempat gak sih? Atau sebatas ke mall. Kalau gendongan ya praktis. Apalagi kalau kita pakai prinsip aman menggendong, ya kita bisa free hands. Sementara stroller seringnya tetap buat anak kurang anteng, karena mereka hanya digolerin, dililit safety belt dan mainan. Kalau digendong, bayi merasa disayang terus kan didekap.

5. Pastikan barang asli. Plis jangan mentingin gengsi daripada keselamatan anak. Makanya perlu banget beli sesuai kemampuan. kalau gak bisa beli yang 3 juta, beli lokal yang 250ribu juga cukup.

Saya sendiri milih merek gendongan yang minim di Kw-in dan beli di gerai resmi.

6. Kenali posisi yang bisa didukung dengan gendongan tersebut. Apakah hadap penggendong saja? atau hadap depan? Bisa posisi belakang?

Umumnya untuk SSC, jarang banget yang support hadep depan. Biasanya sih, jenis hipseat. Kalau cari SSC, ergobaby 360 dan beco punya fitur ini.

Jangan sampai kita posisikan bayi tidak sesuai dengan petunjuknya huhu. Tidak semua gendongan berbentuk carrier bisa semua posisi. Baca buku petunjuk yaaa..

Jauh jauh lebih rekomen ketika anak tidak perlu menyesuaikan dengan media gendongnya. Tapi sebaliknya, si kain gendongan yang menyesuaikan dengan bentuk tubuh anak.

7. Cari yang sudah teruji dan bersertifikat, bisa lebih bagus lagi. Artinya gendongan yang kita pakai sudah benar-benar aman. Harus merek luar doang? Gak juga sih. Yang lokal pun kebanyakan sudah sesuai dan mengikuti ketentuan. Gak asal buat. Cuma memang terkait jauhnya harga, kita harus menghargai merek luar yang tentu aja berdasarkan penelitian panjang. Wajar yak?

Dapet banyak kado gendongan modern nih, tapi mau dipake malah ragu?

Sekarang kan jamannya sudah canggih, coba aja dulu cek cari di google. Ketentuannya, support dari usia berapa, support posisi yang gimana aja. Syukur-syukur ada manual book-nya. Ini berlaku untuk SSC dan hipseat.

Yang harus diperhatikan, ketika mendapatkan kado jenis ringsling pastikan si ring-nya itu bunder utuh. Gak ada bagian kosong. Demi keamanan.

Ah ya, sebagai orangtua, kita pasti ingin si anak bisa melihat sekeliling lebih jelas. Apalagi bocah memang punya tingkat penasaran tinggi banget, nalurinya tuh merhatiin semua hal baru di sekitarnya.

Setiap ke mall, saya suka gemas ngelihat bayi masih pada kecil yang kakinya menjuntai ke bawah. Diposisikan orangtuanya pakai gendongan hadap depan.

Si anak kelihatan banget gak nyaman, kalaupun tertidur dia gak peluk penggendong, tapi nyender ke belakang. Kasian gak sih? 😢

Apa lantas gendong dengan posisi front facing out, adalah pilihan terbaik? 🤔

IMG_20181012_134552.jpg

Tidak juga. Ada pilihan lain, yakni back carry. Alias gendong di punggung. Posisi ini sangat memungkinkan anak mengeksplor skelilingya juga kok. Dari segi keamanan juga lebih terpenuhi. Bayi tetep ndemplok. Hanya memang lebih rekomendasi dilakukan oleh pengendong yang sudah mahir gendong hadap depan. Dan diterapkan kepada anak yang sudah bisa duduk sendiri.

Anak yang digendong terus itu… bau tangan?

IMG_20181012_134537.jpg

Mitos ya. Kita semua sepakat. Nalurinya bayi memang doyan didekap, bayangin aja 9 bulan di perut diselimutin selaput ketuban, digembol kita kemana2, wajar aja kan? Lagipula bayi sampai usia 4 bulan masih belum sadar dia sudah terpisah badan sama ibunya. Jadi wajar tidak bisa lepas dan inginnya nemplok. Gak usah ngeluh ya buibu.

Setiap kita capek pegal menggendong anak, selalu inget, fase ini gak bakal terulang lagi. Kelak kita akan merindukannya, Bu.

Akhirnya memang terkait gendong-menggendong ini ibu, masyarakat, sampai tenaga kesehatan harus teredukasi. Supaya mulai pinter-pinter memilih gendongan. Bukan karena tengah tren, bukan karena harga, bukan sekadar lucu motifnya, bukan karena biar bagus difoto.

Tapi supaya dengan pakai gendongan baik penggendong maupun bayi sama-sama mendapatkan manfaatnya, aman dan nyaman.

IMG_20181012_134523.jpg

Kalau misal kelas persalinan, kelas perawatan bayi, rata-rata kita harus investasi alias bayar sekian rupiah.

Plis, tau gak sih? Kelas babywearing ini sebagian besar tidak dipungut. Dan tenang aja, tiap kota/kabupaten pun sekarang tuh ada komunitas, jadi gampang banget ditemui. Menyenangkannya lagi, kita bisa mencoba berbagai macam gendogan A to Z, merek lokal pun luar. Sebelum akhirnya kita memutuskan untuk punya dan beli. Karena percaya, kebutuhan dan kemampuan tiap orang berbeda. Jadi belum tentu gendongan X ini bagus di A, tapi di kita?

Di momentum yang masih pekan menggendong sedunia ini, saya sih berharap banget terkait gendong menggendong bisa jadi perhatian semua pihak. Bukan hanya ibu yang punya bayi. Bukan hanya para praktisi.

Ke depan, gerakan babywearing yang masuk ke Puskesmas seperti yang dicontohkan di Bandung pun mudah-mudahan bisa juga di kota lain.

Karena, gendong tuh ya bukan sekedar gendong..

#Modyarhood: Perubahan Starter Pack Sejak Jadi Mama?

“Yang hamil 9 bulan siapa, yang mules lahiran siapa, yang begadang siapa, yang 24/7 sama bocah siapa, eeeh yang selalu punya foto bagus sama bocah selalu bapaknya. Apalah aku ini,” celetuk saya sehabis fotoin Bapak sama anak yang lagi tertawa lepas sehabis makan.

Ekspektasi saya dulu sebelum merasakan kehidupan emak-emak ((sesederhana)) punya foto bagus sama anak. Nyatanya setelah dijalani, ya itu bener-bener jadi ekspektasi aja.

Selama 7 bulan lebih ini realitanya malah; baju yang gak match lah (dan pake itu itu lagi), kerudung nyengsol, muka udah lusuh keringetan, lupa gak pake gincu. Semua itu di luar diri saya banget sih ini. Dan jujur ini tuh gak pernah kebayang sebelumnya.

Poin pertama nih paling kocak. Kalau dulu jaman gadis, mandi, dandan, pilih baju, sampai siap tuh kira-kira butuh waktu dua jam. Hahaha. Sejak punya bocah, semuanya bisa jadi hanya 10 menit.

Hasilnya? Saya selalu pakai baju yang berada di tumpukan paling atas atau di gantungan paling depan. Seringkali di otak saya sudah mengidamkan pakaian yang bakal dipakai. Pas buka lemari, auto ambil gitu deh. Itu lagi, itu lagi.

Ah ya kalau diingat-ingat, sewaktu bocah masih baru lahir sampai sekitar 3 bulan-an saya masih bisa leluasa sih milih baju dan polesan dikit. Sejak aktif-aktifnya, sudah hafal mama, kebiasaan pakai baju alakadarnya ini baru bener-bener terbentuk.

Maka, nursing wear stripe berwarna khaky, paling sering saya comot di setiap kesempatan. Sampai suami saya komentar, ya ampun ini default banget kamu di foto. Gendong depan. Baju ini lagi. Disangka netijen gak punya lagi nanti.

Saya cuma tertawa ngikik. Sampai tiba-tiba suami saya yang di sedang di kantor kembali mengingatkan secara tersirat. Dengan bertanya, berapa total baju menyusui yang saya punya. Kemudian tanpa menunggu jawaban saya, dia malah menyuruh saya untuk checkout alias belanja. Kayanya rotasi bajunya kecepatan deh, begitu alasannya. Ya iyalah dalam sehari saya bisa ganti 4-5 baju. Huehe gak sadar aja doi, lemari saya isinya baju menyusui semua :)) tapi disuruh belanja, siapa bisa nolak kan?

Iseng saya buka deh galeri foto di handphone, hmm bener juga. Foto sama bocah selalu pakai outfit tersebut. Hahaha.

Sementara jaman masih gadis, saya tergolong anti banget pakai baju berulang. Kalaupun harus pakai baju yang sama, mungkin jarak waktunya lama. Dan lagi, problem lainnya, dari atas sampai bawah, tone-nya pun mesti masuk. Sekarang yang penting cepat pakainya dan bahan enak. Oh ya, dan ini penting banget saya selalu cari yang cutting-nya panjang. Entahlah sejak jadi mamak, walaupun kemeja saya dulu masih cukup. Tapi kok kayanya malu aja gitu pake baju yang panjangnya cuma 50-60 cm. Enaknya kalau si baju panjang, kalau pas lagi gendong baju ketarik, masih tetap aman. Warna gak masuk, yaudah sih hajar aja. Kan ibu menyusui mah bebas..

Nah selain itu, yang berubah banget adalah kerudung nyengsol. Kayanya sih ini jadi makanan sehari-hari ibu-ibu yang berjilbab ya. Mau benerin, bocah digendongan gak mau diem. Daripada keburu nangis dan gak jadi foto, yaudah pasrah aja.

Karena saya memutuskan berjilbab sesaat setelah menikah, dan masih belajar banget. Jadi sejak awal, saya tim kerudung instan. Walaupun cukup sering juga pakai non instan. Nah semenjak punya bocah, saya masih klub instan. Beberapa kali pakai non instan, hasilnya jepitan di leher lepas, ciput dan kerudung ditarik-tarik, kerudung udah gak nyengsol lagi tapi nyaris ambyuuur. Makanya buat bahan kerudung sejak punya anak, saya lebih picky. Motif lucu apalah, kalau bahannya sekali senggol bocah langsung lepas. Hehehe.

Urusan perawatan wajah memang tantangan terberat semenjak jadi mamak. Saya sendiri sudah meninggalkan perawatan dokter sejak positif hamidun. Semenjak itu kulit saya bener-bener mengandalkan air wudhu aja. Bukan air mata lho ya, kaya kata meme ini. Hehe.

Padahal dulu, saya mati-matian merawat wajah. Dari bangun tidur sampai mau tidur pasti krim-kriman. Ada jerawat dikit aja rempong, sekarang cuek aja didiemin juga ((ajaibnya)) ilang.

Jadi, kalau starter pack make-up sejak punya bocah dan belum pun masih sama sih, karena saya gak terlalu suka polesan. Alis, lip cream, powder. Tapi seringnya saya lupa pakai, atau sudah pakai tapi malah nempel di topi bocah. Hehehe.

Yang paling mencolok lainnya buat saya itu tas, ya gak sih ibu-ibu? Koleksi tas lucu-lucu sementara dilemarikan dulu. Berganti dengan diapers bag. Kalau jaman belum bocahan, starter pack-nya tuh ada dompet, tisu, permen, parfum, lippen, power bank, mukena, dan brosur-brosur gak jelas asal masuk. Eh jaman bocahan begini, isinya itu yaa gak jauh dari diapers, tisu basah, tisu kering, sapu tangan, minyak-minyakan, baju ganti minimal 2pcs, mainan anak, tempat makan anak, nursing cover, — dan segala pokoknya dibawa atas nama jaga-jaga. Tas harus jadi lemari berjalan, segala ada. 😛

Lepas semua perubahan tersebut, saya menyadari sekarang terpenting dalam berpenampilan adalah kenyamanan. Sejak jadi mamak, bukan hanya saya saja yang harus nyaman, tapi juga si bocah yang digembol kemana-kemana.

Jadi sebetulnya, walaupun starter pack sebelum punya anak sangat ngangeni. Pakai setelan satu tone, kemana-mana bawa tas kecil, pakai sepatu bersol tinggi, muka berpoles. Peralihan gaya sekarang paska mamak-mamak pun nyatanya gak buruk-buruk amat sih. Apalagi bersyukurlah kita di era banyaknya barang-barang pendukung yang motifnya ((tetep)) lucu-lucu.

Menyusui Dengan Keras Kepala

Belum lama ini, seorang teman bertanya kepada saya lewat pesan singat. Isinya begini, ” Ci, kamu awal menyusui Bian langsung sukses kah?”

Saya balas cepat, Nope. Susah payah banget.

Serius deh. Emang kok waktu itu gak sampai berdarah-darah, tapi nangis-nangis. Huhu. Ada dua hal yang kemudian begitu saya sesali; sebelum hamil gak dateng ke konselor laktasi dan gak IMD.

Flash back dikit, setelah lahiran Bian malahan diboyong ke ruang bayi untuk dibersihkan dsb dsb. Padahal dari segi kondisinya saat itu sehat dan sangat memungkinkan untuk IMD, sambil menemani proses saya dijahit. Tapi begitulah, rumah sakit tampaknya gak memandang penting IMD ini. Toh nanti ibu dan anak bakal room in.

Selesai jahit menjahit, masih di ruang bersalin dimana bidan dan dokter sudah pergi, Mama dan Ayu dateng. Bian masih belum dibalikkan. Sampai saya yang minta, akhirnya Bian diantarkan ke ruang bersalin. Waktu saya bilang mau IMD, katanya tanggung nanti aja di kamar perawatan ya. Saya pun hanya memandang Bian di box sebelah.

Karena memang kondisinya bau asem abis lahiran dan kontraksi semaleman haha yaudah kali itu saya setuju. Saya mencoba legowo tidak melewati proses IMD.

Setelah di kamar perawatan, saya sudah mandi dan ganti baju, makan. Akhirnya Bian dalam pangkuan saya. Saya pun memanggil perawat untuk diajarkan pelekatan. Saya tenang meski ASI belum keluar saat itu. Dari yang saya pelajari, bayi sehat bisa bertahan selama3 hari atau 72 jam. Karena ASI pun biasa baru akan lancar di hari kedua-ketiga.

Di sofa, saya mulai belajar pelekatan dengan posisi tradisional. Bian dipangku di lengan kiri. Tapi siapa sangka, menyusui ternyata bukan sekedar buka bra lalu lep. Salah total.

Suster yang mestinya membantu pelekatan malah mengomentari bentuk puting saya. Saya yang sebal langsung bilang, menyusui itu di aerola bukandi puting. Saya jadi tambah gugup kesusahan mencari posisi nyaman, Bian pun tampak keganggu lagi tidur malah disuruh pelekatan. Jadi Bian kembali diletakkan di box. Saya mencoba tetap tenang.

Selang sekian jam, anehnya saya berhasil tanpa bantuan suster atau bidan. Saya gak tau kali itu ASI saya sudah keluar atau belom. Saya gak tau kolostrum pun dicicipinya apa nggak. Yang saya tau, Bian menempel tenang.

Gilirannya Bian nangis– yang mungkin kami artikan kali itu dia ingin menyusu– saya malah gagal pelekatan.

Bohong kalau saya bilang saya baik-baik aja. Saya rasanya sudah mulai stress. Harus bagaimana. Kejadian seperti ini berulang di RS, saya rasanya ingin cepet pulang.

Di rumah ternyata, gak lebih gampang. Saya yang masih kagok kembali susah mendapatkan posisi nyaman. Kanan ke kiri diganjel bantal guling, pake bantal menyusui, saya tetap kesusahan. Malam pertama di rumah jadi awal mula drama mengASIhi.

Bian nangis kejer, kepalanya meronta, dia tampak frustasi ingin menyusu. ((padahal bisa aja dia ingin didekap, karena dia belum sadar sudah terpisah badan dari ibunya)). Saya lebih frustasi gagal atau mengawali menyusui dengan drama nangis. Mama saya sampai gemas. Saya bingung mengatur aerola ke mulut anak bayi.

Hari selanjutnya, saya pijat laktasi sama si Ayu. Hari ketiga ini payudara saya rasanya mau pecah. Mana sakit. Lagi saya kesulitan melakukan pelekatan. Saya mulai frustasi ingin segera mencari konselor laktasi di Tasik dan dibantu pelekatan. Saya makin panik juga setelah konsul jarak jauh, saya disuruh ngasih ASI perah supaya Bian gak dehidrasi. Pipisnya hari itu sudah harus 3-4x, sementara popok kain selalu masih kering. Saya masih keukeuh direct breastfeeding. Gak mau diperah, gak mau dipompa.

Hari keempat, saya menemukan posisi nyaman menyusui. Sambil tiduran. Bian dimiringkan, badannya diganjal guling. Alhamdulillah dia lahir sehat dan gendut sehingga di posisi ini gak paur.

Posisi ini ternyata paling berhasil dan memudahkan saya mengatur pelekatan. Ditambah aliran ASI saya yang super deras, posisi ini amat membantu.

Walaupun saya ternyaman di posisi ini, saya tetap mencoba posisi tradisional yang selalu berakhir dengan drama nangis kejer. Akhirnya saya give-up, sudahlah sambil tiduran aja. Padahal di posisi ini juga gak berarti setiap menyusui tanpa drama. Masih sama. Bian nangis kejer, heboh, gak sabaran.

Hari kelima, Bian bener-bener gembul. Walaupun drama, menyusui sudah lebih baik di hari ini. Gara-gara itu juga, saya mengalami kontraksi. Gumpalan darah sisa melahirkan sepenuhnya baru keluar hari itu. Dari pukul 9 pagi sampai tengah malam saya bulak balik mules. Bian sampai ikut malem-malem dibawa saya buat kontrol yang jadwalnya jadi maju. Tapi kuantitas pipisnya normal, Alhamdulillah.

Hari keenam, saya merasa ada yang berubah. Mata Bian kok ada kuningnya. Saya terus positif thinking dan hanya mikir, ASI ASI. Saya kali itu merasa bener-bener butuh konsul laktasi supaya asi yang deres ini bisa maksimal diterima Bian. Setelah tanya sana sini, ternyata konselor laktasi salah satunya di RS yang saya lahiran. Ternyata dokter anaknya itu yang konselor laktasi. Saya yang udah buat janjian akhirnya menunggu sampai kontrol seminggu anak bayi. Karena kasian aja ini bayi merah udah dibawa kesana kemari mulu. Ditambah sedang musim hujan. 😦

Jeng jeng, pas kontrol satu minggu berat Bian bukannya naik. Malah turun jadi 3 kilogram pas. Ditambah dia kena jaundice alias kuning. Huhu saya curhat, ASI saya yang deres banget tapi saya kesusahan pelekatan. Akhirnya dokter dan bidan mengajari saya nenen yang baik, bagaimana pelekatan seharusnya, bagaimana mengatur mulut anak dengan payudara, bagaimana menopang tubuh bayi. Alhamdulillah. Saya pun hanya diberikan PR oleh dokter anak untuk menaikkan BB. Setelah cek lab bilirubin Kakao masih cukup normal walaupun agak tinggi. Saya diminta gempur pakai ASI dan balik lagi kontrol seminggu kemudian.

Ujian selanjutnya, karena bayi kuning itu super duper susah dibangunin. Jadi mengatur jam menyusu dua jam sekali betul-betul tantangan. HP saya dan suami diset dua jam sekali dari setiap habis menyusui. Saya juga mendopping diri dengan ngemilin almond. Saya makan telur dan ayam kampung, nyaris tiap hari. Karena memang buat boost berat badan kita perlu perbanyak hindmilk alias ASI kedua yang isinya lemak. Saya masih mempertahankan menyusui sambil tiduran. Drama nangis kejer ketika menyusui masih tetep jalan, tapi saya tetap keras kepala untuk mengASIhi.

Seminggu kemudian, kuningnya Bian hilang banyak. Tapi masih ada, sehingga dianggap perpanjangan jaundice dan akhirnya dibantu sama obat. Di sini saya betul-betul stress, apalagi si obat bentuknya puyer dan harus dicampur air putih. Drama lain pun berlangsung, bayi sependek pengetahuan saya hanya butuh ASI. Air putih bener-bener yang harus dihindari sementara ini obat tertulis demikian. Tapi keluarga saya keukeuh gapapa untuk ikutin instruksinya. Saya keukeuh gak mau. Setelah mempertimbangkan banyak hal, saya akhirnya kasih obatnya dengan campuran ASI. Dan…. di sini perjuangan lainnya.

Saya mencoba perah! Yap, di tengah tren pompa pompa ASI, sejak hamil saya sudah bertekad untuk memberikan ASI langsung. Saya berulang kali menolak tawaran Pak Suami untuk beli pompa. Ngapain heloo saya sudah resign juga. Selain saya ingin bonding yang kuat lewat direct breastfeeding.

Menurut saya, ASI ini luar biasa istimewa. Kandungannya betul-betul sesuai sama kebutuhan si bayi. Misal bayi lagi mau pilek, maka antibodinya yang lebih banyak keluar. Gak heran ya, anak ASI tuh jauh lebih kuat daya tahan tubuhnya. Dan menurut saya, ketika ASI distok, kesempatan itu yang ilang. Makanya saya keukeuh, walaupun kondisi salah satu puting saya tergolong flat.

Menyusui benar-benar gak mudah, butuh dukungan keluarga dan suami supaya bisa terlaksana dengan menyenangkan. Banyak kondisi yang akhirnya kita ingin give-up, susu formula sajalah atau serahkan sama dot. Saya paham betul, karena pertimbangannya bersumbu anak. Krusial.

Setiap sedang menyusui, saya selalu afirmasi; Kakao, ASI mama selalu enak, banyak dan cukup untuk Kakao. Jadi yang sabar ya sayang. Kita sama-sama belajar. ASI mama obat segala yang Kakao rasa gak enak di tubuh.

Mantra ajaib ini yang akhirnya membawa saya dan Bian lulus ASI eksklusif 6 bulan. Setiap hendak menyusu, saya juga selalu bilang, Nak buka dulu yuk mulutnya yang besar seperti mau makan hamburger. Mantra-mantra ajaib ini juga masih saya pakai sekarang dengan tambahan, Nak menyusu pakai lidah ya, gak usah pakai gigi. Mama ngerti gusimu gatel tapi nanti juga berakhir. Kalau digigit seperti ini nanti Mama sakit kalau sakit Kakao gak bisa nenen.

Pertama kali ditimbang setelah digempur ASI saya rasanya ingin menangis. Bian naik 1,3 kilogram dalam satu bulan. Saya menyadari, dari ASI dia tumbuh. Saya semakin bersemangat memberikan ASI, melahap semua makanan yang memperbanyak produksi hindmilk, saya rela sakit pinggang gara-gara tiduran miring terus, saya rela berjam-jam menyusui ketika anak growth spurt. Saya rela menahan pipis bahkan poop, ketika Bian memakai payudara untuk empeng saat tidur. Saya rela tidur dengan baju selalu terbuka atau gunta gantu baju karena selalu basah akibat LDR.

Karena menyusui proses yang luar biasa menyenangkan, melegakan, dan gak akan terulang. Bekal kita kepada anak untuk tahun-tahun selanjutnya. Menyusui maka bukan sekadar tren. Bukan kewajiban. Bukan hak. Bukan pilihan. Tapi tanggungjawab.

Saya lega bisa melalui 6 bulan kemarin. Doa saya sejak jadi Ibu, sesederhana lancarkan dan mudahkan saya mengASIhi Bian sampai dua tahun. Saya bersyukur Mama dan Pak Suami paham betul betapa ASI istimewa dan gak pernah kepikiran untuk memberikan sufor. Sekalipun Bian sering sekali nangis-nangis, Mama mengartikan itu bukan hanya tanda bayi lapar tapi mereka butuh didekap dipeluk. Toh Bian selalu menyusu hingga selesai, tangannya tidak mengepal, payudara saya terasa kosong. Alhamdulillah. Saya juga gak memungkiri ada kondisi Bian nangis kejer dan kita semua panik. Tapi lagi, Alhamdulillah kita masih diberikan kewarasan untuk gak grasak grusuk menyerahkan pada sufor ataupun dot. Percaya aja setiap kondisi kita mau give-up, percayalah anak bayi akan semakin pintar dan pintar nyusu. Kita hanya perlu bersabar dan mendampingi prosesnya.

Baru 7 bulan lebih saja, saya sudah kangen momentum si bocah nempel nemplok sampai harus tidur di payudara. Sekarang anak bayi sudah tumbuh mandiri, bisa main sendiri, asyik ngulik lingkungan sekitar, mencicipi makanan.

Maka betul sudah, kata-kata yang bilang yang butuh menyusui itu bukan anak. Tapi ibunya. Lebih-lebih.

Menyusui akhirnya bukan sebatas memberikan air susu, tapi membagikan perasaan dan jiwa. Itu kenapa ibu haruslah selalu bahagia. Ketika mood turun dan semangat kendor, yuk coba inget momentum;saat tatap-tatapan, pelekatannya juga pas, anak tersenyum sampai tertidur pules. Real happiness,huh?

Sampai sekarang, posisi kiri atas dan kanan bawah masih jadi andalan dan ternyaman buat saya dan Bian. Kita semangat terus yak, nak. Seperti juga proses hamil dan lahiran kemarin, saya selalu semangat untuk berbagi energi mengASIhi. Tulisan ini didedikasikan buat semua ibu-ibu pejuang ASI yang berteman sama bengkak. Selalu inget, you are a great mother! Keep doing the best ya 💞

Buka Rekening Untuk Anak, Perlu Kah?

source : pinterest

Salah satu list ekspektasi saya dan suami, begitu Kakao lahir yap mulai menabung khusus doi. Tapi apa dikata ya, realita kesibukan menjadi orangtua baru, buat kita berdua luput terus mau buat rekening anak ini.

Apalagi, saya sejauh ini memilih mengASIhi dengan direct breastfeeding, jadi yaa cukup kesulitan juga untuk keluar rumah. Maksimal banget sejam setengah lah untuk meninggalkan si kecil. Dan… kadang tau sendirilah, antrian di perbankan ini bisa makan waktu lebih dari segitu kan.

Untunglah, bulan Agustus ini si Teteh–soulmate saya yang sekarang berdomisili di Jakarta, tengah berlibur di Tasik. Dia pun berniat buat tabungan anak juga. Jadi makin semangat deh, ada temennya. Ah ya momentnya pun semakin pas, Kakao yang sekarang sudah mulai MPASI– buat saya lebih reugreug untuk ninggalinnya.

Jadilah, sehari sesudah Kakao resmi MPASI saya dan Teteh meluncur ke kantor BNI Cabang Pusat. Sebelumnya saya sudah mencari banyak informasi terkait produk tabungan anak. Dan saya dari awal sudah jatuh hati sama BNI. Gak tau kenapa ya, image BNI di otak saya ya buat anak dan tabungan pendidikan. Jadi sekalipun sudah lihat produk bank lain, saya gak tertarik. Hehehe. Kami juga melihat jaringan BNI yang luas dan bisa dipakai di luar negeri. Kali bocah nanti exchange gitu kan.. (aamiin)

Fyi nih, saya dan suami itu sebelumnya gak pake layanan perbankan BNI lho. Suami saya pakai BCA, saya juga pakai Mandiri. Hahaha. Terus ini anak kita pakaikan BNI. Random banget emang tapi ya beginilah indahnya diferensiasilah. Whehehe 😀 Walaupun nanti tiap transaksi harus siap-siap rela dipotong 6500 rupiah. Heu.

Saya sebetulnya deg-degan di proses pembuatan rekening. Bisa gak ya, bisa gak yaaa. Masalahnya, KK saya itu domisili Kota Bandung. Pun dengan Akta Lahir anak saya, walaupun ditulis kelahiran Kota Tasik.

Dan bener aja… di hadapan customer service, status ini dipermasalahin. Hiks. Mana saya pun sebelumnya gak punya rekening BNI. Saya lihatin deh KTP saya yang pernah domisili di Kota Tasik, walaupun belum E-KTP. Saya juga jelaskan kondisi saya yang kemungkinan akan lama di Tasik. Kata si Mbak-mbak yang jutek ini, dia mau konfirmasi dan tanya dulu, bisa atau enggak.

Saya sudah pasrah saja deh. Bukan rezeki anak saya kali buka tabungan di sana. Jeng jenggggg, setelah verifikasi dan cukup makan waktu, ternyata bisa dong! Yaaaay

Saya dijelaskan dua produk buat anak, ada tabungan biasa (Taplus), ada yang tabungan perencanaan. Nah, kalau yang perencanaan anak ini tiap bulannya didebit otomatis. Tapi gitu orangtuanya harus punya rekening BNI. Jadi, saya pilih yang biasa aja.

Menariknya di BNI ini, nama di tabungan tersebut ya nama anak kita. Bukan nama kita lalu diikuti QQ. Menurut saya, ini penting sih. Karena dari awal saya dan suami, memang ingin menabung khusus buat Kakao. Jadi ya– dengan kepemilikan sendiri buat lebih spesial saja.

Apalagi, Kakao anak saya ini laki-laki. Calon kepala keluarga. Dan tanggung jawabnya pun bakal besar. Ini yang kami coba berusaha menyiapkan ke arah sana. Kelak, tabungan khusus ini bakal kami berikan buat bekal dia saat dewasa– menghadapi kerasnya hidup.

Jujur, saya pun terinspirasi dari cerita salah seorang sahabat Teteh. Suami sahabatnya ini saat akan menikah, diberikan tabungan– dimana ibunya selalu menyimpan ampau-ampau lebaran saat kecil. Wih:’)

Meski tabungan anak ini masa tenggangnya hanya sampai 17 tahun, saya gak merasa keberatan sih. Karena bisa diupgrade ke tabungan biasa juga kan, sampai nanti saya dan suami tentukan waktu untuk memberikan kepercayaan kepada Kakao melanjutkan tabungannya ini.

Naaah kalau misal tujuan tabungan lebih ke arah mempersiapkan dana pendidikan, baiknya sih ikut tabungan yang berjangka. Karena dengan didebit setiap bulan dengan nominal tertentu dalam waktu sekian, bakal lebih teratur dan terjaga.

source : pinterest

Makanya, gak ada salahnya juga untuk punya dua tabungan yang berbeda. Misal yang satu untuk dana pendidikan kelak sampai perguruan tinggi, satu lagi memang tabungan yang kita kumpulkan buat si anak.

Oh ya, menariknya pembuatan rekening anak di BNI ini juga adalah formulir pengisian yang super banyak, tapi ternyata hanya sedikit yang perlu diisi. Dan si mbak-mbak jutek juga menawarkan, kartu ATM yang bisa dipakaikan foto anak. Sayangnya format yang dibutuhkan landscape. Saat cek galeri foto, saya kok ya baru sadar betapa saya jarang sekali foto Kakao.

Akhirnya saya pilih yang default dan gratis. Si mbak bilang, “Tenang aja bu, nanti juga bisa kok diganti.” semacam tahu saya agak kecewa haha

Setelah itu, di CS kita hanya perlu bayar materai 6000 aja. Setoran awal dialihkan ke teller. Sesuai ekspektasi, total waktu yang saya butuhkan sekitar satu jam. Karena kita sengaja pergi nyubuh, begitu Kakao tidur.

Oh ya, beberapa kelebihan dari Taplus BNI ini;
– rekening atas nama anak sendiri
– tidak ada biaya admin bulanan
– maksimal ambil di ATM hanya 500 ribu (karena ini peruntukan bener-bener untuk nabung, bukan untuk debit atau diambil, haha)
– kartu ATM bisa pakai foto anak/keluarga
– setoran awal hanya 100 ribu

Kekurangannya? Pasti ada dong. Menurutku sih ATM yang gak langsung jadi ini, agak ngeribetin. Harus bulak balik dateng ke bank, dengan bawa buntut, ku tak tega rasanya harus lama antri. Mestinya sih, khusus buat anak dan desain standar bisa langsung jadi. Kaya bank sebelah gitu.

Tapi secara keseluruhan, saya cukup puas dan senang akhirnya Kakao jadu punya rekening sendiri. Kado buatmu di 6 bulan, Kam. Yang rajin nabung ya nanti. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit aja.

Jadi, buat ibu-ibu kalau berniat buka tabungan anak, wajib banget bawa bentukan aslinya Akta Lahir, KK, dan KTP ya. Dan siapkan foto terkece anak dalam posisi landscape.

Ayo semangat menabung!

Bersalin Nyaman di Bandung

Hidup mulai di fase yang baru, sekarang tuh bener-bener terasa. Semua manusia yang kukenal, perlahan menemukan jalannya. Ada yang meniti karir, melanjutkan pendidikan, mengembangkan bisnis, mengasah sosial, pun memutuskan ber-rumah tangga.

Dan seriously, semua pijakan yang mereka pilih saat ini buat diriku ikut senang juga bangga kenal sama orang-orang yang berani ambil keputusan besar itu.

Terlebih, moment saat mengetahui kalau teman yang kukenal sedang mengandung. Aku rasanya semacam disuntikkan semangat berkali-kali lipat. Aku seperti dapat energi positif, hormon oksitosin terasa membuncah. Rasanya bahagia sekali! :’)

Selain kuucapkan, selamat menjadi calon ibu. Biasanya ku ingatkan mereka pula untuk semangat memulai pemberdayaan diri. Percayalah, titipan istimewa ini harus disiapkan sebaik-baiknya. Waktu 40 minggu akan berlalu begitu cepat.

Gak bisa dipungkiri, imbas dari pengalaman persalinan yang begitu menyenangkan kemarin– memang sangat mendorongku buat menyebarkan semangat itu kepada ibu-ibu hamilnya. Apalagi mereka yang kukenal. Aku ingin mereka bisa ikut mengenang juga memaknai proses penjemputan manusia baru ini ke dunia adalah proses luar biasa indah dan bahagia. Lepas dari itu semua, prosesnya sendiri memang sarat akan perjuangan. Beberapa teman mungkin bosan kurecoki, baca buku-ikut kelas edukasi-rajin olahraga-akupuntur-makan kurma-gymballan-hypnobirthing.

Tapi percayalah, ini memang sangat patut diperjuangkan. Ingat masa kita berjuang keras demi masuk sekolah atau kampus favorit? Ya sebegitu keras juga kita seharusnya usaha kita belajar untuk bertemu dengan buah hati plus ilmu merawat-mendidiknya.

Kupaham betul, euforia masa-masa mengandung itu amat mengemaskan. Ingin diperhatikan, ngidam-ngidam, mual-mual, mendadak mellow, males gerak, scrolling babyshop, follow mamagram, download aplikasi perkembangan bayi tiap harinya.

Tapi dear, harus ingat. Bahwa ada PR penting lainnya yang mesti kita pikirkan dengan kehamilan ini, akan dengan cara apa kita ingin buah hati ini lahir dan dimana. Sekalipun di akhir, bayi kita sendirilah yang akan memilih semua itu– cara mereka melihat dunia pertama kali, dimana mereka ingin lahir, dengan siapa ia ingin ditangkap, sampai kapan mereka siap bertemu dengan kita. Tetap saja kita bisa memberikan mereka pilihan. Sejak awal.

Dan kupercaya, pasangan calon orangtua jaman sekarang tentu bukan lagi mereka yang pasrah lahiran dimana– sing penting selamat. Atau yang ingin lokasinya dekat rumah saja. Pun yang hanya mau biaya murah, kalau bisa gratis semua dibiayain asuransi pemerintah.

Bukan-bukan yang begitu. Pasangan orangtua jaman sekarang, bakal rela menghabiskan waktu di kala akhir pekan untuk melakukan tur rumah sakit. Survei kesana kemari ke tempat rencana bersalin untuk mencari tahu biaya persalinan, fasilitasnya dan persentase lahiran normal. Pasangan orangtua jaman sekarang, gak takut dengan jarak– sing penting sesuai dengan birth plan. Mereka juga ndak takut dengan biaya. Bakal rela memangkas kebutuhan kesenangan pribadi demi mendapatkan fasilitas kesehatan yang jadi incarannya. Sebab, siapa bilang melahirkan itu gak mahal?

Alhamdulillah, daku sudah melaluinya. I have been there, have done that. Aku sempat ingin sekali lahiran di salah satu tempat yang jarang banget ada yang dijahit. Aku juga sempat merasakan kegalauan dimana akan bersalin, kota suami atau kota ibu kita tinggal. Aku juga sempat meragukan bahkan hopeless dengan fasilitas kesehatan yang kupilih, pro normal gak yaa. Dan sejaba sejabanya.

Di posting kali ini sebetulnya poin besar yang ingin kubagikan, pilihan-pilihan tempat bersalin di Bandung. Aku paham betul, ibu hamil banyak maunya.

Kalau kalian termasuk golongan yang pengen tempat lahiran gak berbentuk rumah sakit. Sebab, ibu hamil bukan orang sakit. Juga pengen tempat lahirannya yang nyaman dan aman, tentu pro normal dan pro ASI. Pun pengen tempat lahirannya nyaman seperti di rumah.

Barangkali sedikit ulasan yang kukumpulkan saat hamil Kakao kemarin, bisa membantu. Here we go.

berlokasi di Jalan Dayang Sumbi, boleh dibilang klinik satu ini titik poin yang strategis. Mudah dijangkau dari arah Dago, Setiabudi, atau Tamansari. Besutannya pun oleh dr. Widyastuti alias dr. Wid, obgyn hits seantero Bandung yang tahu sendirilah sangat-sangat pro normal. Kebetulan selama kehamilan kemarin, aku mempercayakan kontrol bulanan kepada Beliau. Ah, sangat menyenangkan. Dibolehin olahraga bahkan sejak kandungan muda. Diajarin sujud anti sungsang di kehamilan tua. Sampai dikasih surat cinta untuk dokter rujukan lahiran di Tasik. Karena sayang ku tak berjodoh lahiran di sini. Ku suka sekali pelayanan di sini yang super ramah dan gak pake ribet. Oh ya, di Jasmine juga punya kelas prenatal yoga dan fisioterapi. Untuk ruangan perawatannya saya sudah jatuh cinta sejak awal, super edgy.

screenshot_2018-09-06-11-20-02-760_com1264260081.png

Untuk tarif persalinan normal di tahun 2017, berkisar 8.5 juta sampai 18 juta rupiah. Ah ya, kamar perawatan kelas 1 berwarna pink yang paling bawah di foto itu per harinya 600 ribu-an.

Buibu yang aktif main instajrem, pasti follow akun ini deh. Klinik yamg super hits sepanjang tahun 2018 ini, (serius jaman aku tahun 2017 belom segininya, haha) punya banyak kelas edukasi yang mendukung banget semasa kehamilan. Aku pun terbantu banget pernah ikut kelas newborn care-nya. Seperti di Jasmine, Harkel pelayananya super ramah. Begitu masuk uniknya kita harus berganti dengan sendal hotel. Sayang tampilan awal begitu masuk, masih terlalu klinik (ku gak tau sekarang). Karena seriously, yang paling kusuka dari Harkel adalah semangat improvementnya. Mereka rajin studi banding, belajar ke Nujuh Bulan Studiolah, dengerin kemauan ibu hamil. Jangan heran nih, mereka menyediakan gymball, aromaterapi bahkan sampai kurma ruthob. Hehehe mantep kan?

Beberapa kawanku berjodoh lahiran di Harkel. Mereka tampak punya pengalaman positif juga dalam bersalin di sana. Sebab, mereka bilang saat ke Harkel, mereka ingin lahiran lagi. Hahaha.

img_20180906_122141113053586.jpg

Untuk kisaran harga per tahun 2017 juga, persalinan normal mulai dari 6,5 juta sampai dengan 11 juta rupiah. Di sini, kita bisa memilih ingin lahir dengan bidan atau dokter.

Yang mengidamkan lahiran gentle birth, pasti tempat satu ini yang muncul paling atas kolom pencarian gentle birth di Bandung. Gak heran karena Bidan Okke sendiri, pengampunya, tuh pionir water birth di Bandung. Di sini, kita bakal bebas melahirkan gaya apapun. Tempatnya pun kamar seperti di rumah, sederhana. Gak terlalu kekinian. Paling menarik memang, fasilitas di massage setelah lelah lahiran dan bayi kita mendapatkan foto pertamanya. Sayang mereka yang bisa lahiran di sini mereka yang bisa mengerjakan PR-PR pemberdayaan diri dengan baik. Mengenai tarif, sekitar 5 juta rupiah. Lahiran dengan bidan.

img_20180906_1221571059897489.jpg

Meski namanya belum seterkenal tiga klinik di atas, tapi percayalah klinik satu ini sangat bisa dipertimbangkan. Mengusung nyaman seperti di rumah, ruangannya pun memang demikian di desain. Paling menarik di klinik ini, biaya yang tergolong murah, pelayanan paska lahiran alias home visit, dan dokter spog wanita. Beberapa kawan saya juga lahiran di sini dan juga mendapatkan pengalaman positif. Ulasan lengkapnya bisa baca di sini, salah satu ibu berdaya– seperjuangan hamil saya dulu.

IMG_20180906_145210.jpg

Untuk perkiraan biaya persalinan normal dengan dokter mulai dari 4-6 juta rupiah. Ah ya, bisa pilih lahiran dengan bidan juga di sini.

Selain Bidan Okke dengan Bumi Ambu, yaa Bidan Farida ini juga terkenal sebagai pejuang lahiran gentle. Ku pun tahu awalnya dari grup Keluarga Gentle Birth. Pas sudah lahiran Kakao malah ketemu ig-nya. Hehehe. Tapi menurutku, salah satu yang patut dipertimbangkan di sini bisa water birth. Ada bath-up cyin! Dan periksa kehamilan di sini pakai USG hihi

Screenshot_2018-09-06-14-53-12-512_com.instagram.android.png

sayang mengenai harga aku kurang update.

Selain, yang kusebutkan di atas. Tempat bersalin yang kemudian bisa dipertimbangkan lainnya ada Cimahi Sehat dan Bidan Onih di Karangsetra.

Dalam pencarian tempat bersalin, seringkali kita hanya fokus pada pro normal saja. Padahal menurutku, kita harus menimbang kebijakan-kebijakan provider kita ini, seperti tindakan epis, induksi, infus. Meski hal-hal demikian idealnya gak ada pada jiwa provider yang pro normal.

Salah satu ciri provider pro normal, sederhana saja– apakah disana tersedia minimal senam hamil-atau malah lengkap ada prenatal yoga, fisioterapi hamil, pilates hamil, pun rutin mengadakan mini seminar/acara bertemakan kehamilan atau ibu dan anak. Karena begitulah provider mendorong ibu hamil berdaya.

Dan kita juga gak boleh lupa, gak boleh egois. Bukan cuma kita yang harus nyaman dan aman, tapi bayi kita. Saat memilih provider, coba cek screening apa saja yang bakal dilakukan terhadap bayi kita.

Terakhir, mengutip nasihat dari praktisi akupuntur hamil sehat– dr. Ainy Natalia; memilih provider itu harus yang kita percaya, karena kita bakal menyerahkan dua nyawa sama dia.

Semangat berdaya ya! 😀

Aplikasi Mobile yang Wajib Dipunya Mamak Junior

1. Primaku

Sejak hamil, saya sudah unduh aplikasi ini. Karena memang… informatif banget. Besutannya Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pulak. Sebelum menjadi mamak, alias Bian belum lahir saya merasa terbantu banget deh dengan artikel-artikel kesehatan anak khususnya.

Eh, setelah lahir, saya lebih lebih terbantu lagi. Saya bisa memanfaatkan fitur pencatatan digital berat badan, panjang, juga lingkar kepala. Kalau di buku aja kan bisa saja ilang atau tertinggal yah. Contoh sederhana ketika Bian baby spa, kebetulan ada screening tumbuh kembang. Nah pas ditanya, berat badan, panjang dan lingkar kepala, saya tinggal buka aplikasi aja deh. Konkrit! Selain itu, yang buat saya demen sama aplikasi ini tentu aja jadwal imunisasinya yang luengkapp tenan, beserta info lengkap tentang kegunaan vaksin sampai indikasi normal paska imunisasi tersebut. Saya juga bisa menginput tanggal sampai merek vaksin yang digunakan. Epic kan? Oh ya hampir ketinggalan, kita bisa isi kuesioner perkembangan bayi kita. Supeeerb emang ini, bantu orangtua newbie buat memantau perkembangan anak. Bener-bener dibuat untuk menciptakan generasi masa depan yang prima deh. Saya gak pernah bosen menyuruh buibu newbie lainnya buat unduh aplikasi ini. Huehehe.

2. Chai’s Play

Seperti juga, Primaku. Chai’s Play saya unduh jauh sebelum Bian lahir di dunia. Tapi berkat aplikasi parenting ini, saya gak pernah kebingungan menstimulasi Bian sejak dalam kandungan. Karena setiap harinya saya mendapatkan notifikasi ide-ide kreatif buat bermain bersama buah hati sesuai perkembangan usianya. Dan percaya deh, idenya itu yang bener-bener sederhana. Bernyanyi, berdongeng, bermain dari alat rumah tangga. Dari inspirasi Chai’s Play juga, saya dan suami membuat video percakapan sewaktu hamil untuk nanti kami perlihatkan ketika Bian besar dan cukup paham.

Sejak memiliki aplikasi ini, bagi saya gak ada kata bingung untuk bermain dan berkomunikasi dengan anak. Yang saya juga suka dari aplikasi pengasuhan ini, kita bisa tahu manfaat suatu permainan, apakah buat kognitif, bahasa. Ntep. Biasanya setiap malam atau Subuh saya sudah cek aplikasi ini untuk persiapan mengasuh hari selanjutnya. Oya, suami saya juga bahkan ikut unduh si Chai dan kami selalu saling mengingatkan permainan sederhana untuk diberikan kepada si kecil.

3. Baby Sleep

Aplikasi suara ini sangat membantu di awal kelahiran si kecil. Dengan beragam suara yang disediakan, nature, transport, household, white noise, sampai lullabies. Kita juga bisa mengkombinasikannya dengan suara shhh, stttt, gitu-gitu.

Yap bayi memang bakal lebih tenang karena suara-suara ribut begitu mengingatkannya saat di dalam perut. Suara jantung ibunya, aliran darah. Awal-awal setiap sedang menyusui saya selalu menyalakan aplikasi ini, dan viola memang membantu bayi lebih anteng dan tidur lebih cepat gitu. Misalnya, sedang nangis, kadang didengarkan white noise bisa lebih tenang. Bian sendiri lebih suka suara hairdryer dan pesawat. Ini andalan deh buat mamak menghadapi fase growth spurt atau wonder weeks. Sayang, di Bian sendiri aplikasi ini hanya berlaku sampai dia berusia 2 bulan aja. Sekarang harus saya yang bernyanyi, haha

4. Spotify

Ini sih aplikasi andalan saya sekarang buat menemani waktu melantainya Bian. Yay! Kompilasi lagu dari Uwa and Friends ini menyajikan lagu-lagu anak terdahulu versi modern. Ada juga dongeng sebelum tidur. Kesukannya Bian sejauh ini, lagu Tiga Sahabat. Bagian yang “tertawa ha-ha-ha” bener-bener buat si bocah kegirangan.

5. WordPress

Jauh dari hingar bingar, di portal ini saya menemukan banyak inspirasi yang dikupas tuntas. Dari hastag ModyarHood sampai cerita keseharian anak. Menyenangkan! Buat mamak junior, wordpress, bisa jadi sarana mendokumentasi kegiatan dan perkembangan si kecil.

Jadi, buibu yang kalau kata ibu-ibu senior sekarang itu kita kebanyakan pegang hp buat hal gak penting. Ketangkis kan dengan aplikasi superb berguna ini. Andalankoh! 😁😁😁

Buku dan Kenangan

Sekitar usia 5 tahun, saya mendapatkan kado ulangtahun super spesial. Sebuah buku cerita hardcover. Saat itu mungkin, buku cerita tersebut bukan satu-satunya yang saya miliki. Tapi yang jelas, sejak ‘memilikinya’ saya teramat posesif terhadap buku tersebut. Ia menjadi kesukaan saya, setiap waktu. Bahkan sampai sekarang, meski raganya entah dimana.

Yang membuat buku cerita berjudul Beauty and The Beast ini begitu khusus memang lantaran, tokoh didalamnya dipersonalisasi namanya menjadi nama panggilan saya. Dedek dan Papa, jadi tokoh utama dalam buku tersebut.

Sampai saya SMP, buku ini masih sering saya buka-buka. Rasanya begitu menyenangkan ketika ada nama kita tertulis dalam sebuah buku. Dan kalau sekarang saya ingat kembali, bisa jadi kegemaran saya membaca hari ini, karena buku personalisasi tersebut.

Kado dari Mbak Oki ini paling berharga selama hidup saya. Saya sering bertanya dimana saya bisa pesan lagi buku tersebut, sayang yang bersangkutan tidak ingat.

Maka itu, ketika hamil dan menemukan akun @mumsproject, saya senang sekali. Saya bisa membuatkan anak saya sebuah buku personalisasi. Saya ingin anak saya juga merasakan ‘kebahagian’ yang saya rasakan dulu ketika membaca buku dengan kita sebagai tokoh utamanya.

Apalagi buku personalisasi dari @mumsproject ini tentang Cerita Lahir. Waaa semakin semangatlah saya untuk memesannya. Kado sederhana untuk Kakao, yang bisa jadi kenangan di masa depan.

Dibandingkan buku bantal sebelumnya, buku a day to remember jauh lebih tebal. Padahal dari segi halaman, cuma 4 lembar saja lhoo. Paling awal dimulai dari Tempat dan Tanggal Lahir. Lucunya pas banget ada ilustrasi yang menunjukan waktu kelahiran.

Favorit saya halaman yang isinya arti nama. Kreatif banget. Di masa depan, kalau anak-anak kita bertanya kenapa sih nama mereka itu. Dan kita mungkin lupa doa dibalik namanya, buku ini bisa jadi pengingat.

Dari buku ini, anak kita bakal tahu detail, berat badan lahir dia, panjang dia, sampai orang yang bantu dia lahir. So happy!

Proses produksi buku ini emang cukup lebih lama dari Hello Baby karena ada sedikit revisi. Alhasil bukunya baru datang di usia Kakao 3 bulan. Begitu dikasih lihat, Kakao super seneng. Sukanya senyum-senyum kalau lagi mainan buku ini.

Bagi saya, buku ini pun akhirnya bukan sekedar stimulan motorik saja. Tapi jadi pengingat di masa depan supaya kami bisa selalu bersyukur atas setiap kelahiran. Supaya kami bisa terus mengingat hari bahagia itu berasal darimana. 🙂